LAPORAN PRAKTIKUM DASAR - DASAR ILMU TANAH " ACARA X"






LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR ILMU TANAH

ACARA X

“ Peptisasi dan Flokulasi ”

Dosen Pengampu : Ir. Inkorena G.S. Sukartono, M.Agr








Disusun oleh :

Nama : Amalia Nur Fadlila
NPM : 183112500150022
Kelas : B
Kelompok : 1





PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI 
FAKULTAS PERTANIAN
 UNIVERSITAS NASIONAL
JAKARTA 
2020









I. PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

Pada proses pembentukan struktur tanah, gaya yang menyatukan butir-butir primer menjadi agregat adalah :

1. Gaya intermolekuler (gaya london Van Der Walls dan ikatan H)

2. Gaya kapiler yang timbul akibat adanya meniscus

3. Gaya kimia termasuk pengaruh kation yang terserap

         Gaya intermolekuler adalah yang terpenting dalam pembentukan struktur mikro.Zarah harus berdekatan satu sama lain, barulah gaya erebut bekerja.Untuk dapat berdekatan zarah tersebut haru terflokulasi atau terkoagulasi terlebih dahulu.

         Pengaruh kation terhadap flokulasi dipengaruhi oleh valensi dan derajat hidrasi dari kation-kation tersebut.Kekuatan flokulasi kation-kation disusun menurut urutan Hofmeister, sebagai berikut :

         H+>Ba2+>Sr2+>Ca2+>Mg2+>Cs+>Rh+>NH4+>K+>Na+>Li+

         Pemberian larutan elektolid dari kation-kation yang mempunyai kerapatan muatan yang tinggi seperti (NH4+ dan Na+) ke dalam suspensi tanah maka akan menyebabkan kation-kation tersebut diserap oleh liat (koloid) tanah dengan lapisan listrik ganda yang tebal sehingga berpotensial tinggi. Semakin tebal hidrasi (mantel air) maka gerakan Brown ion-ion yang terjerap dipermukaan koloid semakin besar sehingga jerapan semakin lemah, netralisasi muatan koloid tidak terjadi dan muatan negatif semakin menonjol serta menimbulkan gaya tolak-menolak yang akhirnya terjadilah peptisasi.



B. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui gejala flokulasi dan peptisasi dari suspensi tanah di sekitar kebun percobaan dengan menambahkan NH4OH, Ca(OH)2 dan HCl kedalamnya.







II. TINJAUAN PUSTAKA




              Flokulasi, di bidang kimia, adalah proses ketika koloid keluar dari suspensi dalam bentuk flok atau serpihan, baik secara spontan atau karena penambahan suatu agen penjernih. Aksi ini berbeda dari presipitasi dalam hal tersebut, sebelum flokulasi, koloid hanya tersuspensi dalam cairan dan tidak benar-benar larut dalam larutan. Dalam sistem terflokulasi, tidak ada pembentukan endapan liat (cake), karena semua flok berada dalam suspensi. Koagulasi dan flokulasi adalah proses penting dalam pengolahan air dengan koagulasi untuk mendestabilkan partikel melalui reaksi kimia antara koagulan dan koloid, dan flokulasi untuk mengangkut partikel yang tidak stabil yang akan menyebabkan tumbukan dengan flok.
                 Beberapa faktor yang mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi antara lain sebagai berikut  :


1.       Suhu


Suhu berkaitan dengan pH optimal cairan, di mana proses koagulasi dinyatakan dapat berjalan baik jika pH air baku olahan (ABO) berkisar 8-10. Jika ABO tidak dalam kisaran tersebut maka penambahan koagulan ke dalam ABO tidak ekonomis karena koagulan tidak bekerja optimal.


2.       Bentuk koagulan


Secara ekonomis, laju pencampuran akan lebih efektif jika koagulan diberikan pada keadaan cair dibandingkan dalam bentuk padat.


3.        Tingkat kekeruhan


Pada tingkat kekeruhan rendah, destabilisasi sulit terjadi. Jadi akan lebih mudah jika koagulasi dilakukan pada tingkat kekeruhan yang tinggi.


4.      Kecepatan pengadukan


Pengadukan bertujuan untuk mempercepat kontak antara kandungan suspensi (koloid) dalam ABO dengan koagulan yang ditambahkan. Jika pengadukan lambat, pengikatan akan berlangsung tepat sasaran sehingga flok yang terbentuk juga sedikit dan akibatnya proses penjernihan tidak maksimal. 







III. METODOLOGI PRAKTIKUM



A. Alat dan Bahan

                 Alat dan bahan yang diperlukan pada praktikum ini ialah tanah, NH4OH 3 N, H2O, Ca(OH)2 0,04 N, HCl, gelas ukur 10 ml, gelas ukur 100 ml


B. Cara Kerja


1. Dimasukan 5 gram contoh tanah dalam gelas ukur 100 ml, ditambahkan 10 ml
    NH4OH 3 N dan diberikan H2O hingga isinya tepat 100 ml.
2. Diaduk sampai rata dan kemudian dibiarkan beberapa menit, agar bahan – bahan kasarnya            
    menguap. Kekeruhan suspensi menunjukkan tingkat peptisasi.
3. Ditambahkan 10 ml Ca(OH)2 0,04 N, kocok dan biarkan. Perhatikan gejala flokulasi
    yang terjadi.
4. Ditambahkan 10 ml HCL lalu diaduk dalam tabung yang lain setelah diberikan 10 ml NH4OH 3 N      seperti diatas dan biarkan. Perhatikan flokulasi yang terjadi dalam sistem ini. 





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil


NO.
Gambar
Keterangan
1.








Tanah ditimbang sebanyak 5 gram.
2.







Alat dan bahan yang diperlukan saat
praktikum.
3.




- Pada tabung 1 menggunakan larutan    Ca(OH), Tanah sangat keruh.
- Pada tabung 2 menggunakan larutan HCl, tanah keruh.
- Pada tabung 3 menggunakan larutan H2O, tanah sedikit keruh.




B. Pembahasan

            Dari hasil praktikum yang diperoleh bahwa gaya intermolekuler adalah yang terpenting dalam pembentukkan struktur mikro. Zarah harus berdekatan satu sama lain, baru gaya intermolekuler bekerja. Untuk dapat berdekatan zarah tersebut harus terflokulasi atau terkoagulasi terlebih dahulu.
        Pada gelas piala A pada saat pemberian NH4OH 3 N dan penambahan air kapur berubah menjadi sangat keruh dan pada gelas piala B setelah tanah di tambahkan pelarut yang sama dengan A namun tidak di beri air kapur tetapi di ganti dengan HCl perubahan yang terjadi sama yaitu berubah menjadi keruh namun pada B tanah lebih cepat mengendap di bandingkan A. Pada penambahan NH4OH suspensi agak keruh, itu menunjukkan gejala peptisasi yakni kation-kation (NH4+) dijerap oleh liat (koloid) tanah sehingga potensial menjadi tinggi, gerakan Brown semakin besar yang mengakibatkan muatan negatifnya menonjol dan timbulnya gaya tolak-menolakPada penambahan HCl dan Ca(OH)2 terjadi peristiwa flokulasi (penggumpalan koloid tanah) karena H+ dan Ca2+ dijerap oleh koloid tanah dengan potensial rendah sehingga netralisasi muatan koloid dapat berlangsung. Pada gelas ukur ketiga, air berwarna sedikit keruh. Hal itu disebabkan karena tanah yang telah diaduk cepat mengendap ke bawah. Kejernihan natrium yang tinggi berbahaya bagi tumbuhan, karena kandungan garam yang sifat basa pada tanah akan menghambat pertumbuhan tanaman.






V. KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan


           Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian HCl mengakibatkan tanah lebih cepat mengendap di bandingkan dengan pemberian air kapur, dengan demikina dapat dia rtikan bahwa HCl lebih cepat menjerap koloid dalam air sehingga netralisasi muatan koloid tidak terjadi dan muatan negatif semakin menonjol serta menimbulkan gaya tolak-menolak yang akhirnya terjadilah peptisasi di bandingkan dengan pemberian air kapur.


B. Saran


             Sebaiknya pada saat praktikum mahasiswa harus lebih teliti pada saat menentukan peptisasi dan flokulasi agar tidak dapat kesalahan saat praktikum dan mahasiswa harus lebih aktif pada saat praktikum.


   
DAFTAR PUSTAKA



Sukartono, Inkorena G.S. 2019. Penuntun Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: universitas                   nasional.
Umaraya. 2012. Peptisasi dan flokulasi. Jakarta : Univesrsitas Nasional ( diakses oleh  
            https://umaraya.blogspot.com/2012/07/flokulasi-dan-peptisasi-tanah.html Sabtu , 18 Januari  
           2020 pukul 14.24 WIB ).
https://id.wikipedia.org/wiki/Flokulasi (Diakses oada tanggal 18 Januari 2020 pukul 14.31 WIB)






Komentar

Postingan Populer